-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

PLN dan Electrifying Agriculture

Tuesday, September 21, 2021 | September 21, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-09-21T00:54:51Z

Ditulis oleh : Eko Sulistyo*

Electrifying Agriculture (EA), adalah salah satu program dari transformasi PLN dalam pilar Customer Focus dan Innovative untuk meningkatkan pelayanan listrik lebih mudah, terjangkau dan andal.  Tidak hanya sektor pertanian, program ini juga mencakup sektor perikanan, peternakan dan perkebunan. EA didesain untuk mendorong pemanfaatan teknologi guna meningkatkan produktivitas petani atau peternak melalui pemanfaatan energi listrik.

Tidak perlu lagi menarik kabel sendiri dari rumah yang bisa membahayakan nyawa.  Jaringan listrik PLN akan disalurkan ke lokasi pertanian, perikanan dan peternakan.  Dengan cara itu, jaringan listrik akan lebih aman untuk mengairi sawah dengan mesin pompa air, memberantas hama dengan lampu penjebak hama, atau menerangi ternak dan lahan yang memerlukan pengawasan intensif.  

Program EA tidak hanya untuk meningkatkan supply listrik, tapi secara strategis juga untuk mendukung kemandirian pangan nasional. Dengan memanfaatkan energi listrik, diharapkan produksi pertanian atau perikanan, bisa lebih maksimal. Program EA juga akan mempermudah pengembangan infrastruktur pendukung lainnya.  

Dalam implementasi di lapangan, program EA sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.  Selain dapat menghemat biaya operasional, pasokan listrik PLN sangat membantu meningkatkan produksi mereka.  Misalnya, ketika masih menggunakan genset, diperlukan biaya sekitar Rp. 102.000 untuk BBM. Setelah berganti ke listrik, bisa berhemat biaya operasional sekitar 60 persen sehingga meningkatkan pendapatan petani.

Salah satu contoh menarik program EA di Desa Betet, Ngronggot, Nganjuk, Jawa Timur, karena melibatkan petani generasi baru yang biasa disebut petani milenial.  Program ini tidak hanya menawarkan sisi wisata, Desa Betet juga digunakan sebagai tempat pertanian milenial mengelaborasikan penerapan teknologi sektor pertanian. Dengan teknologi green house menggunakan sinar ultraviolet, para petani milenial dapat mempercepat masa tanam pada tanaman hidroponik mereka.

Secara konsepsional, tujuan utama program EA adalah efisiensi  penggunaan BBM pada mesin diesel, terutama di sektor pertanian dan perikanan. Dengan begitu, anggaran rutin pemerintah untuk pembelian 65 juta liter BBM atau setara Rp 600 miliar per tahun, bisa dialihkan untuk perluasan jaringan listrik. Program EA juga dapat dijadikan medium modernisasi pertanian, dengan target berikutnya berupa peningkatan produksi dan pengembangan usaha.

Petani Milenial

Berdasar data PLN per Juli 2021, jumlah pelanggan yang terlibat dalam program EA sebanyak 138.315, dengan daya terpasang 2.466 MVA dan pemakaian listrik mencapai 2,31 TWh. Adapun peringkat sektor berdasar pemakaian listrik (kWh) adalah perikanan (44%), peternakan (20%), pertanian (21%), dan perkebunan (9%). Pendapatan yang diperoleh PLN mencapai 2,69 Triliun, sebuah capaian yang menggembirakan setelah sekitar setahun program EA digulirkan.

Sesuai dengan karakter generasi milenial yang akrab dengan teknologi digital, demikian pula petani milenial, yang selalu update dengan perkembangan teknologi. Di beberapa lokasi kini telah muncul komunitas petani milenial.  Pada titik ini bisa dilihat match (kesesuaian) antara program EA dengan aspirasi petani milenial, bahwa EA memberi ruang yang luas bagi keterlibatan petani modern ini.

Modernisasi (termasuk digitalisasi) teknologi pertanian, Smart Agriculture dan Smart Farming, menjadikan sektor pertanian lebih menarik bagi generasi milenial, sehingga akan mencegah mereka untuk alih profesi ke sektor industri dan jasa di perkotaan. Beragam profesi di perkotaan memang menjanjikan “panen” lebih cepat, berupa gaji bulanan, sementara bekerja di sektor pertanian harus menanti sekian bulan, baru ada hasil.

Indonesia secara generik memang dikenal sebagai negeri agraris, namun alih generasi di sektor pertaian terbilang lambat, di tengah potensi pertanian yang sangat besar. Dari segi populasi, generasi milenial yang secara sadar memilih profesi sebagai petani, memang masih belum sebanding jumlahnya dengan mereka yang memilih bekerja sektor formal maupun informal di perkotaan.

Secara umum bisa disebut, sektor pertanian belum banyak diminati generasi milenial untuk dikembangkan. Sementara ada beberapa komoditi yang sangat menjanjikan, salah satunya budidaya porang. Itu sebabnya, program EA diharapkan bisa menjadi katalis, bagi generasi milenial untuk menggeluti usaha pertanian.

Salah satu terobosan yang perlu dijalankan adalah pemanfaatan teknologi digital yang dipadukan dengan mekanisasi dan elektrifikasi dalam pengolalan lahan, penanaman sampai panen, dan pascapanen. Pada fase ini program EA menemukan momentumnya. Keterlibatan generasi milenial menjadi solusi bagi stagnasi produksi pertanian selama ini, sehingga bisa membuka jalan bagi pemenuhan aspirasi kemandirian dan kedaulatan pangan sebagai negara agraris.

Tak kurang Presiden Jokowi, memberi perhatian khusus pada prospek petani generasi milenial. Dalam sebuah pertemuan di Madiun (Jatim), pertengahan Agustus lalu, kepada para petani milenial, Presiden menitipkan pesan agar tidak hanya mengerjakan di lahan pertaniannya saja, tapi juga bisa mengolahnya hingga pascapanen.  “Kita harus mengolah sendiri, ada hilirisasi, ada industrialisasi, sehingga nilai tambah betul-betul ada di dalam negeri,” demikian pesan Presiden Jokowi.

Presiden juga sempat memberi tekanan khusus pada budidaya porang, salah satu jenis umbi-umbian yang sedang “naik daun” saat ini. Petani milenial agar bisa mengolah umbi porang menjadi barang jadi, misalnya menjadi keripik. Jangan sampai nanti yang mengolah itu, petani di Jepang, China, Korea Selatan, bahkan petani di Eropa.

Dalam konteks ini, pada akhirnya, kita akan menyaksikan bagaimana program EA dan petani milenial sedang membangun narasi bersama menuju Indonesia Emas (2045). Pada saat itu, petani milenial sudah menemukan bentuknya, baik dari segi kesejahteraan dan capaian teknologi, sesuai imajinasi kita selama ini tentang kehidupan petani di negara maju, seperti di Jepang, Korsel, AS dan negara maju lainnya.

Sebagai negara agraris, populasi petani masih terbilang besar, namun secara kualitatif, kehidupan petani tidak selamanya sejahtera. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2020), jumlah petani mencapai angka 33,4 juta orang. Maka dalam situasi makro seperti ini, program electrifying agriculture dari PLN menjadi relevan dan menemukan konteksnya, sebagai upaya meningkatkan kualitas kesejahteraan petani.

 

----------

*Penulis adalah Komisaris PT PLN (Persero)


Tulisan sebagaimana yang dimuat pada media KONTAN, Selasa 21 September 2021

×
Berita Terbaru Update